Alumni BK UAD Berbagi Pengalaman dan Materi dalam Perkuliahan Asesmen Bimbingan dan Konseling Krisis: Fokus pada Asesmen Klien Adiksi NAPZA
Yogyakarta, 8 Juli 2026 – Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyelenggarakan kegiatan Alumni BK UAD Berbagi dalam Perkuliahan bertajuk Pendampingan Asesmen Klien Adiksi NAPZA pada Rabu (8/7/2026) di Ruang Kelas Kampus 4 UAD. Kegiatan ini merupakan bagian dari perkuliahan mata kuliah Asesmen Bimbingan dan Konseling Krisis yang diikuti oleh 30 mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Semester 6.
Kegiatan menghadirkan alumni Program Studi S1 Bimbingan dan Konseling UAD, Renantapria Pramuditya, S.Pd., sebagai narasumber dan bekerja sebagai konselor adiksi di Badan Narkotika Nasional Kabulaten Sleman. Melalui sesi berbagi pengalaman, narasumber memaparkan praktik asesmen terhadap klien adiksi NAPZA berdasarkan pengalaman di lapangan. Mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai pentingnya membangun hubungan profesional dengan klien adiksi, melakukan wawancara mendalam, serta menggali informasi secara komprehensif sebagai dasar dalam menentukan kebutuhan layanan konseling.
Perkuliahan ini didampingi oleh dosen pengampu mata kuliah Asesmen Bimbingan dan Konseling Krisis yaitu Dr. Agus Supriyanto, M.Pd., yang memiliki kepakaran di bidang Bimbingan dan Konseling Adiksi. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa asesmen terhadap individu dengan adiksi NAPZA dapat dilakukan menggunakan Alcohol, Smoking and Substance Involvement Screening Test (ASSIST) melalui pertanyaan-pertanyaan mendalam yang mengeksplorasi tujuh domain penting dalam kehidupan klien. Asesmen yang komprehensif menjadi langkah awal dalam memahami kondisi klien secara menyeluruh sehingga intervensi konseling yang diberikan dapat lebih tepat sasaran.
Dr. Agus Supriyanto juga menegaskan bahwa keluarga merupakan domain yang sangat penting dalam proses asesmen klien adiksi NAPZA. Menurutnya, keluarga memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan identitas diri, perkembangan psikososial, serta keberhasilan proses pemulihan. Oleh karena itu, konselor perlu memahami dinamika keluarga, pola komunikasi, sistem dukungan, serta berbagai faktor risiko dan faktor protektif yang terdapat dalam lingkungan keluarga sebelum menyusun rencana intervensi.
Selain memperoleh penguatan konsep, mahasiswa juga berdiskusi mengenai berbagai kasus yang sering ditemui dalam praktik layanan konseling adiksi. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menghubungkan teori yang diperoleh di kelas dengan pengalaman nyata di lapangan sehingga meningkatkan kesiapan mereka dalam menghadapi berbagai permasalahan konseling krisis.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi yang lebih baik dalam melaksanakan asesmen terhadap klien adiksi NAPZA secara profesional, sistematis, empatik, dan berbasis bukti. Kolaborasi antara dosen dan alumni dalam proses pembelajaran menjadi salah satu upaya Program Studi Bimbingan dan Konseling UAD untuk menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual, sekaligus memperkuat kompetensi calon konselor dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling krisis. Pesan utama yang disampaikan dalam kegiatan ini adalah bahwa keluarga merupakan kunci dalam proses pencarian jati diri sekaligus menjadi fondasi utama dalam mendukung keberhasilan pemulihan individu dari adiksi NAPZA.



